Dolar Menguat, Rupiah dan IHSG Kompak Melemah!
Table of Contents
![]() |
| Rupiah Sentuh Titik Terlemah Sepanjang Sejarah, IHSG Ikut Tertekan. (Istimewa) |
Gagasan.id, Jakarta – Nilai tukar rupiah kembali berada di bawah tekanan berat terhadap dolar Amerika Serikat (AS). Pada perdagangan Senin (18/5/2026) pukul 10.08 WIB, rupiah tercatat melemah hingga menyentuh level Rp17.647 per dolar AS. Angka tersebut menjadi posisi terendah rupiah sepanjang sejarah perdagangan intraday di pasar spot.
Dalam satu bulan terakhir, rupiah tercatat mengalami pelemahan sebesar 3,17 persen. Sementara jika dibandingkan periode yang sama tahun lalu, pelemahannya mencapai 7,54 persen. Kondisi ini menjadi perhatian serius di tengah meningkatnya ketidakpastian ekonomi global dan tekanan di pasar keuangan domestik.
Tekanan terhadap mata uang Garuda dinilai dipengaruhi kombinasi faktor eksternal maupun internal. Pengamat ekonomi dan pasar uang Ibrahim Assuaibi menyebut penguatan dolar AS, kenaikan harga minyak dunia, hingga tingginya kebutuhan impor energi Indonesia menjadi salah satu faktor utama yang membebani rupiah.
“Indonesia masih memiliki ketergantungan impor minyak yang cukup tinggi. Saat harga minyak dunia naik dan dolar menguat, tekanan terhadap rupiah otomatis semakin besar,” jelas Ibrahim.
Selain itu, sentimen pasar juga dipengaruhi pernyataan Presiden Prabowo Subianto terkait kondisi ekonomi nasional. Presiden menilai masyarakat di pedesaan tidak terlalu terdampak oleh fluktuasi nilai tukar rupiah terhadap dolar AS.
“Saya yakin sekarang ada yang bilang Indonesia akan kolaps. Rupiah begini, dolar begini. Tapi rakyat di desa tidak pakai dolar,” ujar Prabowo.
Meski demikian, pelaku pasar tetap mencermati tekanan yang terjadi di sektor keuangan nasional. Perpindahan dana masyarakat dari simpanan rupiah ke valuta asing serta momentum pembagian dividen disebut ikut meningkatkan permintaan dolar AS di pasar domestik.
Tidak hanya rupiah, tekanan juga terlihat di pasar saham. Indeks Harga Saham Gabungan (IHSG) dibuka melemah ke level 6.628,59 dibanding penutupan pekan sebelumnya di posisi 6.723,32. Bahkan pada pukul 10.00 WIB, IHSG sempat terkoreksi hingga 4,28 persen ke level 6.435.
Pemerintah melalui Menteri Keuangan Purbaya Yudhi Sadewa menegaskan bahwa fokus utama saat ini adalah menjaga stabilitas ekonomi nasional agar tetap tumbuh di tengah gejolak pasar global.
“Kami fokus menjaga pondasi ekonomi agar pertumbuhan nasional tidak terganggu,” ujar Purbaya.
Pemerintah juga mulai meningkatkan intervensi di pasar obligasi guna menahan tekanan yang lebih besar terhadap pasar keuangan domestik serta mengantisipasi keluarnya investor asing dari pasar surat utang Indonesia.
Langkah tersebut diharapkan mampu menjaga stabilitas pasar sekaligus memulihkan kepercayaan investor di tengah tekanan global yang masih berlangsung.


Posting Komentar